Archive for July, 2006

Wawancara, Wartawan, dan Ratu Kecantikan

Gatra 30 Oktober 2004

Oleh Andreas Harsono dan Esti Wahyuni

Kalau Anda mengenal David Candow, seorang pelatih wartawan dari
Canadian Broadcasting Corporation, Anda akan tahu bahwa seorang
wartawan yang baik, kalau melakukan wawancara, bekerja dengan mewakili
rasa ingin tahu audiens. Ia harus sopan. Ia harus siap dengan pemahaman
bahan. Ia harus menggali informasi sebanyak mungkin. Ia tak bernada
menghakimi. Ia tak menunjukkan kesan sudah tahu. Bukan sok pamer. Bukan
sok pintar.

Ini penting karena wawancara adalah bagian penting
dari reportase. Dan reportase adalah bagian penting dari jurnalisme.
Wawancara yang baik akan menghasilkan banyak informasi. Wawancara yang
buruk akan menghasilkan banyak bantahan.

Sumber yang menerima
pertanyaan-pertanyaan yang buruk akan memakai waktu wawancara untuk
memahami pikiran si wartawan, dan tak jarang, membantah asumsi-asumsi
si wartawan. Atau lebih jelek lagi, meninggalkan si wartawan, tak
menanggapi isi wawancara.

Anda boleh bertanya pada Candow, "Berapa jumlah kata ideal untuk sebuah pertanyaan?"

Candow biasanya menjawab, "Satu kata saja. Dan kata itu adalah mengapa?"

Namun,
tentu saja, tak setiap pertanyaan bisa disarikan jadi satu kata.
Prinsipnya, makin panjang suatu kalimat tanya, makin menurun kemampuan
si sumber mencerna pertanyaan itu. Sebaliknya, makin pendek pertanyaan,
makin mudah si sumber memahami si wartawan. Candow memberikan pedoman
16 kata.

Lebih banyak dari 16 kata, lebih menurun juga daya
tangkap si sumber. Dan kalimat harus dibuat dengan pertanyaan terbuka
dengan kata tanya "5W 1H" yang artinya what, when, who, where, when, how.

Pertanyaan
tertutup menghasilkan jawaban yang kurang memuaskan. Maksudnya,
pertanyaan tertutup teoritis bisa dijawab dengan jawaban "ya" atau
"tidak." Kami sering menyaksikan wartawan-wartawan Jakarta, baik
televisi, radio, maupun cetak, belum menyadari teori dasar wawancara
ini. Mungkin menarik untuk tahu bagaimana kesalahan-kesalahan itu
dibuat dengan memperhatikan pertunjukan seleksi wartawan SCTV dalam
acara Menuju Layar Liputan 6. Acara ini diadakan sejak 1997
di kampus-kampus. Namun tahun ini diselenggarakan lewat siaran
langsung. Finalnya 3 Oktober lalu.

Acaranya diadakan layaknya,
pemilihan penyanyi "Indonesian Idol" atau "Akademi Fantasi Indosiar."
Ada acara cat walk. Peserta berputar-putar di panggung. Pakaian kelas
disainer. Nyanyian. Hiburan. Lawakan. Pertanyaan disajikan oleh MC
Tantowi Yahya. Lalu ada juri-juri: Okky Asokawati (model), Pia
Alisjahbana (pengusaha Femina Group), Tengku Malinda (TVRI), Karni
Ilyas (SCTV) dan Darwis Triadi (fotografer). Pokoknya, kesannya wangi,
jauh dari kesan kerja keras mengejar berita yang jadi citra wartawan.

Seorang
peserta dari Padang, Dora Multa Sari, tampil cantik dengan busana hijau
pupus. Tantowi Yahya pun bertanya apa pendapat Dora soal korupsi di
kalangan anggota parlemen. Dora menjawab bla bla bla.

TANTOWI:
All right, wow, tepuk tangan tanda setuju membahana di studio malam
ini. Eeeh … Dora ini seorang yang penuh prestasi. Di samping sebagai
presenter, Dora ini pernah berprestasi di bidang apa?
DORA: Saya pernah masuk 10 besar Puteri Indonesia.

Maka
tepuk tangan pun membahana di studio. Dora tersenyum manis dan
melenggak-lenggok meninggalkan panggung. Cantiknya, jangan ditanya.
Singkat kata, dari 13 finalis, juri memilih lima orang "grand finalist."

Masing-masing
diminta mewawancarai seorang nara sumber selama 2,5 menit, dipilih
berdasarkan undian, dan nara sumber sengaja dipilih dari orang-orang
yang biasa diwawancarai SCTV: Eep Saefulloh Fatah (komentator isu
politik), Alan Budi Kusuma (pemain bulu tangkis), Ulfa Dwiyanti
(pelawak dan penghibur), Baby Jim Aditya (aktivis HIV/AIDS), dan
Brigadir Jenderal Pranowo Dahlan (komandan kesatuan polisi anti teror).

Grace N. Louisa
    Rata2 jumlah kata: 31.21
    Pertanyaan terbuka: 1
    Pertanyaan tertutup: 6
    Sumber: Pranowo Dahlan
M. Achir
    Rata2 jumlah kata: 25.8
    Pertanyaan terbuka: 3
    Pertanyaan tertutup: 3
    Sumber: Baby Aditya
Linda P. Mada
    Rata2 jumlah kata: 18.2
    Pertanyaan terbuka: 1
    Pertanyaan tertutup: 6
    Sumber: Alan B. Kusuma
Dora M. Sari
    Rata2 jumlah kata: 15.5
    Pertanyaan terbuka: 4
    Pertanyaan tertutup: 4
    Sumber: Ulfa Dwiyanti
Wahyu R.
    Rata2 jumlah kata: 19.6
    Pertanyaan terbuka: 3
    Pertanyaan tertutup: 5
    Sumber: Eep S. Fatah

Dari
lima orang ini, semuanya bertanya dengan panjang-panjang dan tertutup.
Hanya Dora yang bertanya dengan singkat karena ia harus balik menjawab
pertanyaan Ulfa Dwiyanti. Dora rata-rata hanya melontarkan 15.5 kata
per kalimat tanya. Namun dari delapan pertanyaan itu, lima merupakan
pertanyaan tertutup. Kira-kira begini tanya jawab antara Dora dan Ulfa:

DORA: Mbak Ulfa, saat banyak sekali talent show-talent show
yang melahirkan bintang-bintang baru dalam waktu singkat, seperti
mereka di karantina dalam waktu dua bulan, tiga bulan, kira-kira mereka
menjadi bintang yang memiliki banyak sekali pengemar. Bagaimana Anda
melihat talent show-talent show seperti ini?
ULFA
: Maksudnya talent instant gitu roger?
DORA: Talent show Mbak.
ULFA:
Kalau menurut saya itu masalah faktor. Faktor keberuntungan, beruntung
bisa masuk dalam waktu singkat. Seperti kamu misalnya. Gitu lho.
DORA: Tapi Mbak Ulfa, apakah menurut Mbak Ulfa mereka itu sudah cukup siap atau bagaimana?
ULFA: Itu yang saya khawatirin. Apakah kalau kamu menang apakah cukup siap di lapangan?
DORA: Ya. Baik, Mbak Ulfa itu merintis karir dari awal?
ULFA: Sepuluh tahun lebih.
DORA: Sepuluh tahun lebih?
ULFA: Mbak berapa minggu?
DORA:
Terima kasih Mbak Ulfa, jika nanti saya jadi bintang nantinya. Mbak
Ulfa meniti karir lama sekali. Apakah Mbak Ulfa merasa ada
ketidakadilan antara yang lama meniti karir dengan saat ini?
ULFA: Bukan ketidakadilan. Nasib beruntung. Itu dia.

Dora
tampaknya memang beruntung. Malam itu juri memenangkan Dora. Namun dari
perhitungan kami, para peserta rata-rata menggunakan 22 kata per
pertanyaan, atau lima kata lebih banyak dari batas David Candow. Model
bertanya mereka panjang-panjang dan tertutup. Ulfa Dwiyanti sendiri
mempertanyakan kualitas Dora. Hanya keberuntungan saja. Tanpa kerja
keras. Mereka hanya menang tampang tapi miskin pengalaman.

Tidak
heran kalau banyak nara sumber yang bertanya ulang. Misalnya, Wahyu
Rahmawati dari Malang, dalam segenap kegugupannya, bertanya pada Eep
Saefullah Fatah, "Langsung saja. Sekarang perpolitikan setelah
pemilihan presiden kedua telah dibuktikan bahwa SBY menang. Pada saat
ini banyak sekali nama-nama yang dicantumkan, baik itu di SCTV sendiri
maupun di surat kabar, tentang calon-calon kabinet. Menurut Anda,
bagaimanakah persentase pemberian nama pemunculan nama itu terhadap
kabinet nanti?"

Eep tampaknya tak mengerti pertanyaan versi 44-kata Wahyu. Eep bertanya, "Maksudnya?"

WAHYU: Maksudnya, seberapa kredibelkah orang-orang yang dicantumkan di televisi dalam kabinet nanti?
EEP:
Sebetulnya belum ada satu pun konfirmasi dari SBY-Kalla tentang
nama-nama yang beredar. Jadi saya kira, kita tidak bisa menilai
seberapa kredibel mereka sebelum ada konfirmasi (Perhatikan Eep membantah asumsi Wahyu).
WAHYU: Tapi mengapa nama-nama itu harus dimunculkan. Apakah ini testing the weather dari SBY atau Anda optimis terhadap testing the weather dari SBY?
EEP:
Sebetulnya ada kebutuhan memang untuk memunculkan nama sebelum
pelantikan 20 Oktober dikarenakan masyarakat perlu tahu siapa yang akan
menjadi pejabat publik. Tapi persoalannya, nama-nama yang muncul
sekarang ini adalah nama-nama yang sebetulnya beredar begitu saja,
tanpa ada konfirmasi. Itu yang jadi persoalan.
WAHYU: Kok bisa tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu, kenapa harus memunculkan?
EEP: Siapa yang memunculkan?
WAHYU: Kata Pak Eep tadi bahwa tidak ada konfirmasi terhadap pemunculan nama-nama tersebut.
EEP: Sampai sekarang SBY dan Kalla belum mengkonfirmasikan satu pun nama.
WAHYU: Dan siapakah yang memunculkan adanya nama-nama di televisi tersebut?
EEP: Media massa.
WAHYU: Media massa? Jadi tidak ada konfirmasi lebih lanjut dari SBY maupun Kalla.
EEP: Belum ada sampai sekarang. Termasuk ketika kemarin SBY mengadakan ujian
doktor. Ada sejumlah nama yang ikut serta hadir dan SBY mengatakan
bahwa mereka bukanlah calon-calon menteri.

WAHYU: Menurut Anda sendiri Pak Eep, bagaimana kredibel yang dicantumkan?
Maksud saya, nama-nama yang dicantumkan ini, menurut Pak Eep, bagaimana
posisinya dalam kabinet nanti? Apakah mereka cukup mampu dalam memimpin
negara kita esoknya?

EEP: Belum ada nama
masalahnya. Jadi kalau misalnya Anda menanyakan kredibilitas mereka,
siapa mereka kita tidak tahu. Jadi ada ketidakjelasan di sini. Siapa
yang Anda maksudkan?

Tanya jawab ini menghabiskan waktu 2.5
menit karena Wahyu memakai asumsi yang salah. Tapi ini bukan monopoli
Wahyu. Wahyu dan kawan-kawannya semua menunjukkan kesan sok pintar,
agresif, serta tak mampu mewakili audiens dalam wawancara. Grace
Natalie Louisa dan Linda Puteri Mada bertanya enam pertanyaan dan hanya
satu yang terbuka. Mohammad Achir bahkan bertanya 62 kata. Kesan belum
tentu sama dengan esensi. Bisa saja Dora, Wahyu dan sebagainya
sebenarnya rendah hati.

Karni Ilyas, direktur pemberitaan SCTV,
tak setuju dengan argumentasi kami. Karni mengatakan bahwa kelima orang
ini memang bukan wartawan. Mereka hanya calon wartawan. "Ketika mereka
jadi juara, mereka baru jadi calon wartawan. Masa percobaan lagi.
Begini saja, yang namanya Bayu Setiyono, pantas jadi wartawan atau
nggak? Bayu itu juara kami 1997. Sekarang jadi pantas setelah enam
tahun. Ketika jadi juara, boleh saja Anda bicara belum pantas."

Atmakusumah
Astraatmadja, mantan ketua Dewan Pers dan pemenang Hadiah Magsaysay,
mengatakan pada kami bahwa ia tak setuju seleksi wartawan dilakukan
secara komersial (Dora mendapat hadiah Daihatsu Xenia) dan memanfaatkan
frekuensi publik untuk keperluan internal SCTV. Beberapa wartawan lain
juga tak setuju karena kuatir citra wartawan diasosiasikan dengan
kinerja Dora dan kawan-kawan.

Kami juga belum melakukan analisis
kemampuan Bayu Setiyono. Tapi kami ingat Bayu pernah diperlakukan sama
macam gaya Ulfa ketika Bayu mewawancarai Kwik Kian Gie dari PDI
Perjuangan. Kwik menyebut Bayu "jongkok." Tapi menarik juga kalau mulai
sekarang Anda memakai prinsip David Candow untuk menghitung jumlah kata
pertanyaan-pertanyaan Bayu. Atau seberapa tertutup atau terbuka
pertanyaannya? Dan tentu saja, bukan hanya Bayu, tapi kalau perlu semua
wartawan televisi Jakarta. Jangan-jangan Anda akan menemukan kesimpulan
bahwa kualitas mereka tak jauh lebih baik dari Dora atau Wahyu?

Comments No Comments »

112912_badut2_2alkisah ada badut-badut yang yg tak punya cermin sehingga tak tau bagaimana rupa diri. katakanlah kelompok badut ini sebagai kelompok X. badut-badut X ini berbeda dengan badut yang suka menghibur di acara ulang taun anak-anak. badut di acara ulang taun hanyalah sebagai profesi, apa yang dipakainya hanyalah atribut sementara yg bisa dilepas sewaktu tidak dibutuhkan. mereka pun disukai anak-anak. sedangkan badut-badut X ini bukanlah profesi melainkan memang tercipta sebagai badut dengan segala kesombongan dan tabiatnya, serta jauh dari kesan jenaka. apa yang melekat padanya bukanlah atribut melainkan kondisi nyata keadaannya: mulut lebar, hidung bulet, pantat besar, perut buncit, dan lain-lain. namun sayang, mereka ga sadar akan kekurangannya itu, maklum mereka tidak punya cermin…

untuk menghibur diri, mereka sering membuat lelucon-lelucon yang tidak lucu berdasarkan kekurangan obyek lain. gawatnya, sudah tau itu ga lucu, mereka tetap mengulanginya berkali-kali. semakin tidak luculah lelucon-lelucon ga lucu itu seolah tidak ada bahan lelucon lain. padahal kalau mereka mau sukses membadut, kondisi dirinya sendiri sangat layak dijadikan bahan lelucon. mereka inilah badut-badut kehidupan.

Comments 1 Comment »

bajuku dulu tak begini, tapi kini tak gitu lagi…. hmmmm begini toh rasanya kerja pake dasi. gara-gara tugas pertukaran reporter sementara sama kantor lain yg masih sodara kandung, kewajiban pake dasi pun melekat. padahal di kantor asliku ada juga kewajiban pake dasi tapi ga harus-harus banget, malah kalo reporter pake dasi disangka orang aneh. emang sih dari dulu baru masuk kantor udah dikasih jatah dasi tapi dalam prakteknya ga pernah dipake. artinya, dalam dua bulan aku harus sedikit merelakan kebebasan bernapas karena jeratan lidah kain itu. this is my first time wearing a tie everyday all day. pertama pakWhite_shirt_black_tie_1e sih agak risih bin canggung, sempet lupa cara ngiketnya, maklum orang kampung…. terakhir pake dasi waktu wisudaan 1,5 taun yang lalu. tapi mudah-mudahan lama-kelamaan terbiasa apalagi lingkungan kanan kiri pake juga. so, just take a look at me. this is the new me; man in blue shirt and dark blue tie.

lingkungan kerja yg baru lumayan menantang untuk kenal lebih banyak orang. sebelum pindah kenalan juga udah lumayan banyak. dan yg paling menantang adalah cara kerja baru yg totally diferrent. dibilang lebih enak, ada enaknya: liputan dianter mobil dan nulis ga panjang-panjang. dibilang lebih ribet, pasti: mulai getting sampe terlibat editing berita jadi siap tayang. senjata yg dipegang di lapangan pun beda. dulu bawa tape recorder sekarang bawa microphone plus kadang2 bantuin camera person bawain tripod. kata petinggi2 itu sih ini kesempatan langka jurnalis usia muda bisa ngrasain dua dunia, cetak dan tv. bener juga….. lumayan buat nambah panjang CV juga kan…..

yg agak lucu, pake latihan vokal segala buat dubbing baca berita. kata si pelatih, "jadilah gila kalo pengen suara bagus." kalo dirasain emang menuju ke arah kegilaan sih soalnya mesti ngulangi kata "naaaaaa….." dengan berbagai irama. atau ngucapin "selamat malam, selamat malam, selamat malam".

kesimpulannya, secara keseluruhan asik dapet kesempatan ini dengan segala suka dan dukanya. kesempatan ga datang dua kali, toh??

Comments 1 Comment »

semalem aku nonton Kick Andy yg ditayangin stasiun tv sebelah kantor. ceritanya ttg penderitaan orang2 dg skisofrenia yg digolongin gangguan jiwa. sebutlah namanya mba Evi (nama sebenarnya) yg seorang mantan model dan penikmat dunia gembrot alias dugem. dia married sama suami yg ternyata di kemudian hari mulai kebuka kedoknya sebagai pecandu narkoba. rusaklah rumah tangga mba Evi. "ada keinginan membunuh anak saya karena takut tidak bisa menghidupinya dengan layak," katanya. kakaknya yg bernama Nurul (juga nama sebenarnya) ngaku adiknya pernah lari ke mesjid sambil gendong anaknya teriak2 "sekarang kiamat.. sekarang kiamat….."

singkat kata singkat cerita, mba evi sembuh walau masih ngonsumsi obat pencegah halusinasi. salah satu cuplikan videonya nunjukin bang Andy the host ngunjungin RSJ Soeharto Heerdjan di grogol. aku jadi inget waktu juli tahun lalu berada di dalam RSJ itu juga. eittttt…. jangan salah sangka dulu, bukan dirawat di sana, tapi liputan atau tepatnya ospek latihan liputan. sama redaktur yg inisialnya Pak Y, aku disuruh ke RSJ tapi kebetulah berdua sama Sopia.

begitu masuk lorong pertama, ketemu salah satu pasien yg lagi jalan2. "halo," sapanya ramah. "halo juga," balasku menyapa sok akrab. Sopia heran kenapa aku nanggepin orang itu. di RSJ itu aku ngobrol2 sama ’saudara-saudara’ kita tapi yg udah masuk taraf hampir sembuh. mereka udah dibiarkan lepas jalan-jalan di lorong atau duduk2 di selasar2 depan kamar. sedangkan pasien yg baru masuk masih dikrangkeng coz masih ‘liar’ jadi cuma bisa liat dari depan. di sel pria, penghuninya berusaha berinteraksi dg ku. "bang minta rokok, bang minta rokok," pinta mereka mengiba. tapi sayang aku ga bawa rokok, lagian sama petugas ga boleh ngasih rokok. di dalam sel itu ada puluhan kamar. suara lolongan, teriakan, desahan (loh…) terdengar dari dalam.

perjalanan berlanjut ke sel perempuan. keadaan ga jauh berbeda. di depan sel perempuan, ada seorang pasien perempuan yang aku lupa namanya, sebutlah namanya Bunga (nama samaran klasik). dia udah sembuh lagi bercengkerama sama para suster2 yg masih tampak muda-muda belia. waktu aku wawancarai, Bunga yg bergaya tomboi ini ngaku masuk ke situ karena stres ortunya cerai. dia mengaku bosan dengan perlakuan suster2 di situ yg suka nggodain doi. satu pertanyaan suster yg memuakkan bagi Bunga adalah "gimana, ada halusinasi ga?" pembicaraanku dg dia yang lumayan lama itu berakhir waktu dia harus bantu suster untuk bagiin obat ke pasien lain yg masih dikrangkeng. memang, mereka yg sudah hampir sembuh diberdayakan membantu pekerjaan di sana. malah ada salah satu mantan pasien yg sebenernya udah boleh pulang tapi lebih milih tetep di situ, akhirnya dijadiin pegawai kebersihan.

pasien terakhir yg kutemui ternyata lumayan akrab sama kantorku kerja, Media Grup. "Punya Pak Surya Paloh ya?" tanyanya. "Kok ga bawa kamera?"

aku pikir tanpa ada motivasi sosial, tugas liputan itu pasti akan sangat menjengkelkan nan melelahkan. tapi syukurlah semua itu ga terasa karena pas kuliah udah sempet mau nglamar volunteer di RSJ di Bogor. wah…. dari apa yg aku lihat itu, rasa syukur makin tebal di hati terlepas dari segala kekuranganku ternyata masih ada, bahkan banyak, orang yg lebih menderita dan berkekurangan. jadi jangan pernah anggap diri sebagai manusia yg paling menderita, tersial, atau tercela di muka bumi.

you’re not alone…..

Comments No Comments »

Super_1024_1_4Super_1024_13_2Superman_returns_423200534956pm531

Comments 1 Comment »

  • Lihat resleting anda.. YKK bukan? Itu singaktan dari Yoshida Kogyo Kabushibibaisha perusahaan resleting terbesar di dunia.
  • Suara "wek..wek..wek" bebek gak akan menggema di gua, lembah, dll. Sejauh ini belum ada penjelasan dari para ilmuwan.
  • 40% keuntungan McD dari penjualan Happy Meals.
  • Rata-rata 12 bayi yg lahir di dunia tiap hari diserahkan ke orang tua yg salah (ketuker-tuker).
  • Coklat asli (dari buah coklat yg baru dijemur) dapat membunuh anjing, menyerang jantung dan sistim sarafnya. Dosis: 5 ons untuk anjing kecil/puddel.
  • Sebagian besar lipstik merek2 terkenal, bahan bakunya memakai sisik ikan laut.
  • Tahun 1830, kecap dijual sebagai obat.
  • Leonardo Da Vinci bisa menulis sambil tangan yg lain menggambar pada saat yg sama.
  • Leonardo Da Vinci penemu gunting.
  • Leonardo Da Vinci menggambar Mona Lisa selama 10 tahun.
  • Di semua kasino di Las Vegas gak terdapat jam dinding dan jam meja.
  • Adegan berkelahi Bruce Lee terlalu cepat sehingga filmnya musti diedit diperlambat gerakannya agar terlihat normal.
  • Tidak ada orang yang bisa menjilat sikunya sendiri.
  • Produk pertama yg menggunakan barcode adalah permen karet Wrigley’s.
  • Pemilik perusahaan Marlboro yg pertama meninggal gara2 kanker paru2.
  • Honor Michael Jordan dari iklan Nike lebih gede daripada jumlah gaji seluruh buruh pabrik Nike di Malaysia.
  • Ibu Adolf Hitler tadinya mau aborsi dia.. tp diselametin ama dokter.
  • Nama orang di dunia yg paling banyak adalah Muhammad.
  • Karet gelang akan lebih kuat bila didinginkan di kulkas dulu.
  • Dalam bahasa Inggris, kata "Dreamt" adalah satu2nya yg berakhiran "mt".
  • Gak akan mungkin anda bersin sambil melek.
  • Kecoak masih bisa betahan hidup 10 hari tanpa kepala.
  • Otak bekerja lebih aktif ketika tidur daripada ketika nonton TV.
  • 80% penduduk Amerika menyukai warna biru.
  • Lebih banyak jumlah ayam dari pada manusia di dunia.
  • Di Islandia tidak dibolehkan memelihara anjing.
  • Di Washington DC lebih banyak jumlah sambungan telepon daripada jumlah penduduknya.
  • Rata2 waktu yg dibutuhkan orang dari mulai memejamkan mata hingga tidur adalah 7 menit.
  • Orang yang baca postingan ini pasti praktekin nyoba njilat sikunya sendiri. :p

Comments 3 Comments »

ga biasanya bapak kost berkunjung ke kamar. setaun gw kost di rumah
dia, total jendral dia mampir cuma dua kali. semalem, sekitar jam
24.00, gw lagi muter film smallville. tiba-tiba, di kaca jendela muncul
sesosok wajah tua reot bapak kost. gw berusaha nyembunyiin kekagetan gw
karena takut dia tersinggung disangka hantu. tumben gw pikir, mungkin
karena dia liat lampu kamar masih nyala. setelah gw bukain pintu, dia
duduk ngampar di tengah pintu. sengaja ga gw suruh masuk soalnya dia
lagi ngerokok kebal-kebul. gw ga mau kamar gw kena polusi asap
cigaretnya. jahat kan gw? emang….

"aduh, terganggu nih nonton
si Clark yang mau nyelametin Lana," kata gw dalam hati. acara nonton
film pun beralih jadi dengerin cerita yang keluar dari mulut Pak Amat
yang logatnya betawi abis itu. dia cerita mulai dari nawarin bikin KTP
seharga 200.000 sampe tetangga kiri kanan. awalnya gw sempat tertarik
waktu dia nawarin bikin KTP biar kalo ada urusan gampang, tapi begitu
gw denger angka 200rb…. cling, langsung ilang keinginan itu. mantunya
yang keturunan Cina bikin KTP kena 350rb karena warga keturunan. terus
dia cerita tetangga deket rumah yang baru aja dapet proyek bikin meja
kantor di semarang, juragan toko kaca deket rumah, dan
tetangga-tetangga lainnya. dari semua cerita tentang orang-orang yang
ga gw kenal itu, komentar gw cuma satu: "i dont care." tapi dalam hati
pastinya. sepanjang dia berdongeng, gw mikir semi curiga sebenernya mau
apa ini orang. dan celakanya gw punya phobia sama satu kalimat.
amit-amit…. jangan sampe dia bilang "harga kost naik." maklum trauma
sama ibu kost waktu kuliah di bogor masih terngiang di kuping. kalo
ngobrol sama ibu ini pasti UUD alias ‘ujung-ujungnya duit’.

tapi
syukurlah sampai rokoknya abis ‘diisep’ eh… maksudnya kebakar,
kalimat itu ga keluar. akhirnya dia angkat kaki dengan meninggalkan
kepulan asap rokok yang tetep bisa masuk kamar dan nyamuk-nyamuk yang
kegirangan bisa masuk karena pintu kebuka.

yah…. beginilah
nasib anak kost, dihantui kenaikan harga sewa kamar tapi amit-amit
(sambil ketok meja 3x) jangan sampe kena razia KTP.

Comments 1 Comment »

biasa…

tiap
sabtu salah satu rutinitas gw adalah antar-ambil cucian ke laundry
kiloan di suatu deretan toko sewaan. nah! entah apes atau apa,
sabtu (15/7) pas
gw sampe di depan bangunan berukuran sekitar 3×4 meter itu, ternyata
tutup. padahal jarak ke kos cukup jauh–naek angkot sekali ngongkos
2500. kata empunya toko di sebelah laundry langganan gw itu, penjaga
laundry lagi pulang mandi. "paling cuma setengah jam mas, tunggu aja di
sini," kata doski dengan ramah. ok fine, gw tunggu di depan toko ’serba
ada’ dia. gw bilang serba ada coz emang jualannya macem2 bo. minumlah
gw teh botol dagangan dia dengan harapan pas itu teh abis si penjaga
laundry dateng, jadi gw minumnya dikit2. eeeeh… setengah jam berlalu
tanpa tanda2 kedatangan si mbak-mbak penjaga laundry. sebotol teh pun
ludes… untung kesabaran gw belum abis jadi masih gw tunggu.

ga
jauh dari deretan toko itu ada kios penjaja voucher pulsa. ada sesosok
ibu duduk di depan etalase pajangan kartu voucher itu. secara sekilas
pandang pantesnya umur dia sekitar 45 taunan. awalnya gw gatau kenapa
ibu yang pake daster merah ini sering teriak2 sambil ketawa. lama2 gw
tau ternyata doski latah. yang punya kios ternyata demen godain (baca
ngagetin) si ibu. kayanya latah si ibu udah stadium 4, jadi disentuh
dikit sontak langsung latahnya keluar. latahnya keluar dalam dua
bentuk: verbal dan material. kalo cuma dikagetin suara, yang keluar
latah verbal kata ‘perkakas gituan’–tau kan maksud gw– misalnya
konci, konde, dan kon… kon… yang laen. tapi kalo dikagetin dengan
dipegang, si ibu latahnya ngeluarin material pesing alias pipis. setiap
kali pemilik kios megang tumit si ibu, bercucuranlah material pesing
itu. alhasil basahlah daster merah yang dipake. sambil menutupi bagian
basah di dasternya, dia pulang.

seiring menghilangnya si ibu
dari pandangan, gw jadi inget lagi orang yg gw tunggu2 belum nongol
juga. akhirnya gw ngobrol sama juragan toko serba ada yang gw tumpangin
itu. bayangin, toko seukuran 3×4 meter itu selain dipake jualan, juga
jadi tempat tinggalnya. di salah satu pojok, dia bikin kamar mandi
ukuran 1×1 meter. di atas kamar mandi itu, mereka bikin tempat tidur
ukuran 1×3 meter. perkiraan gw tempat tidur itu dipake buat sepasang
suami istri itu bareng seorang anak perempuannya yang sekitar 4 taun
umurnya. keluarga perantau dari Purwodadi ini ngaku dia sewa toko itu
11jt per taun, itupun yang nyewain kakak si suami. listrik sama air
masih harus mereka bayar sendiri. walaupun gw juga perantau, setelah
liat kondisi kaya gitu, gw jadi ga punya alasan lagi buat ngeluh cuma
buat nganter cucian ke laundry. udah bagus gw ga perlu repot2 nyuci
plus nyeterika yang lebih melelahkan pastinya.

thanks god, at last si mbak yg gw tunggu dateng juga. dank je mbak udah nycuci + nyetrika pakaianku.

Comments 2 Comments »

ga
jarang aku lihat orang-orang begitu gemar menertawakan dan
mengeksploitasi kekurangan orang lain. kenapa mereka ga cukup nyimpen
tawa mereka dalam hati aja dan mensyukuri kekurangan itu ga ada pd diri
mereka. aku tanya ini berdasarkan standard yg aku pake: sebisa mungkin
ga memverbalkan apa yang aku lihat pd seseorang yang sekiranya bisa
bikin orang itu tersinggung. maksudku di sini bukannya aku anti kritik,
tapi menghindari suatu bentuk verbalisasi citra ‘ganjil’ yang
tertangkap mataku dari fisik orang lain. intinya adalah menghindari
omongan yang ga guna.

secara logika, dengan menertawakan
kekurangan orang lain maka mereka beranggapan diri mereka sempurna. aku
ambil kesimpulan mereka menertawakan dan mengeluarkan kata-kata
penggambaran kekurangan fisik orang lain untuk semakin mengukuhkan diri
sebagai manusia sempurna. padahal tanpa mereka ucapkan, semua orang
juga tau bahwa seseorang itu memang punya kekurangan fisik. ada juga
sebagian orang yang, walau lihat ada kekurangan, mereka ngenggep hal
yang wajar dimana masing-masing punya kekurangan dan kelebihan sehingga
mereka ga ambil pusing. jadi kembali lagi ke apa manfaat mereka
memverbalisasi tangkapan otak mereka. kalo alasannya bisa mendapat
kesenangan, kebahagiaan, dan kepuasan dengan memanfaatkan kekurangan
orang lain, aku rasa mereka sakit (jiwa). kasian mereka….

Comments 3 Comments »