Wawancara, Wartawan, dan Ratu Kecantikan (studi kasus Menuju Layar Liputan 6 SCTV)
Posted by: adynugroho in Uncategorized
Wawancara, Wartawan, dan Ratu Kecantikan
Gatra 30 Oktober 2004
Oleh Andreas Harsono dan Esti Wahyuni
Kalau Anda mengenal David Candow, seorang pelatih wartawan dari
Canadian Broadcasting Corporation, Anda akan tahu bahwa seorang
wartawan yang baik, kalau melakukan wawancara, bekerja dengan mewakili
rasa ingin tahu audiens. Ia harus sopan. Ia harus siap dengan pemahaman
bahan. Ia harus menggali informasi sebanyak mungkin. Ia tak bernada
menghakimi. Ia tak menunjukkan kesan sudah tahu. Bukan sok pamer. Bukan
sok pintar.
Ini penting karena wawancara adalah bagian penting
dari reportase. Dan reportase adalah bagian penting dari jurnalisme.
Wawancara yang baik akan menghasilkan banyak informasi. Wawancara yang
buruk akan menghasilkan banyak bantahan.
Sumber yang menerima
pertanyaan-pertanyaan yang buruk akan memakai waktu wawancara untuk
memahami pikiran si wartawan, dan tak jarang, membantah asumsi-asumsi
si wartawan. Atau lebih jelek lagi, meninggalkan si wartawan, tak
menanggapi isi wawancara.
Anda boleh bertanya pada Candow, "Berapa jumlah kata ideal untuk sebuah pertanyaan?"
Candow biasanya menjawab, "Satu kata saja. Dan kata itu adalah mengapa?"
Namun,
tentu saja, tak setiap pertanyaan bisa disarikan jadi satu kata.
Prinsipnya, makin panjang suatu kalimat tanya, makin menurun kemampuan
si sumber mencerna pertanyaan itu. Sebaliknya, makin pendek pertanyaan,
makin mudah si sumber memahami si wartawan. Candow memberikan pedoman
16 kata.
Lebih banyak dari 16 kata, lebih menurun juga daya
tangkap si sumber. Dan kalimat harus dibuat dengan pertanyaan terbuka
dengan kata tanya "5W 1H" yang artinya what, when, who, where, when, how.
Pertanyaan
tertutup menghasilkan jawaban yang kurang memuaskan. Maksudnya,
pertanyaan tertutup teoritis bisa dijawab dengan jawaban "ya" atau
"tidak." Kami sering menyaksikan wartawan-wartawan Jakarta, baik
televisi, radio, maupun cetak, belum menyadari teori dasar wawancara
ini. Mungkin menarik untuk tahu bagaimana kesalahan-kesalahan itu
dibuat dengan memperhatikan pertunjukan seleksi wartawan SCTV dalam
acara Menuju Layar Liputan 6. Acara ini diadakan sejak 1997
di kampus-kampus. Namun tahun ini diselenggarakan lewat siaran
langsung. Finalnya 3 Oktober lalu.
Acaranya diadakan layaknya,
pemilihan penyanyi "Indonesian Idol" atau "Akademi Fantasi Indosiar."
Ada acara cat walk. Peserta berputar-putar di panggung. Pakaian kelas
disainer. Nyanyian. Hiburan. Lawakan. Pertanyaan disajikan oleh MC
Tantowi Yahya. Lalu ada juri-juri: Okky Asokawati (model), Pia
Alisjahbana (pengusaha Femina Group), Tengku Malinda (TVRI), Karni
Ilyas (SCTV) dan Darwis Triadi (fotografer). Pokoknya, kesannya wangi,
jauh dari kesan kerja keras mengejar berita yang jadi citra wartawan.
Seorang
peserta dari Padang, Dora Multa Sari, tampil cantik dengan busana hijau
pupus. Tantowi Yahya pun bertanya apa pendapat Dora soal korupsi di
kalangan anggota parlemen. Dora menjawab bla bla bla.
TANTOWI:
All right, wow, tepuk tangan tanda setuju membahana di studio malam
ini. Eeeh … Dora ini seorang yang penuh prestasi. Di samping sebagai
presenter, Dora ini pernah berprestasi di bidang apa?
DORA: Saya pernah masuk 10 besar Puteri Indonesia.
Maka
tepuk tangan pun membahana di studio. Dora tersenyum manis dan
melenggak-lenggok meninggalkan panggung. Cantiknya, jangan ditanya.
Singkat kata, dari 13 finalis, juri memilih lima orang "grand finalist."
Masing-masing
diminta mewawancarai seorang nara sumber selama 2,5 menit, dipilih
berdasarkan undian, dan nara sumber sengaja dipilih dari orang-orang
yang biasa diwawancarai SCTV: Eep Saefulloh Fatah (komentator isu
politik), Alan Budi Kusuma (pemain bulu tangkis), Ulfa Dwiyanti
(pelawak dan penghibur), Baby Jim Aditya (aktivis HIV/AIDS), dan
Brigadir Jenderal Pranowo Dahlan (komandan kesatuan polisi anti teror).
Grace N. Louisa
Rata2 jumlah kata: 31.21
Pertanyaan terbuka: 1
Pertanyaan tertutup: 6
Sumber: Pranowo Dahlan
M. Achir
Rata2 jumlah kata: 25.8
Pertanyaan terbuka: 3
Pertanyaan tertutup: 3
Sumber: Baby Aditya
Linda P. Mada
Rata2 jumlah kata: 18.2
Pertanyaan terbuka: 1
Pertanyaan tertutup: 6
Sumber: Alan B. Kusuma
Dora M. Sari
Rata2 jumlah kata: 15.5
Pertanyaan terbuka: 4
Pertanyaan tertutup: 4
Sumber: Ulfa Dwiyanti
Wahyu R.
Rata2 jumlah kata: 19.6
Pertanyaan terbuka: 3
Pertanyaan tertutup: 5
Sumber: Eep S. Fatah
Dari
lima orang ini, semuanya bertanya dengan panjang-panjang dan tertutup.
Hanya Dora yang bertanya dengan singkat karena ia harus balik menjawab
pertanyaan Ulfa Dwiyanti. Dora rata-rata hanya melontarkan 15.5 kata
per kalimat tanya. Namun dari delapan pertanyaan itu, lima merupakan
pertanyaan tertutup. Kira-kira begini tanya jawab antara Dora dan Ulfa:
DORA: Mbak Ulfa, saat banyak sekali talent show-talent show
yang melahirkan bintang-bintang baru dalam waktu singkat, seperti
mereka di karantina dalam waktu dua bulan, tiga bulan, kira-kira mereka
menjadi bintang yang memiliki banyak sekali pengemar. Bagaimana Anda
melihat talent show-talent show seperti ini?
ULFA: Maksudnya talent instant gitu roger?
DORA: Talent show Mbak.
ULFA:
Kalau menurut saya itu masalah faktor. Faktor keberuntungan, beruntung
bisa masuk dalam waktu singkat. Seperti kamu misalnya. Gitu lho.
DORA: Tapi Mbak Ulfa, apakah menurut Mbak Ulfa mereka itu sudah cukup siap atau bagaimana?
ULFA: Itu yang saya khawatirin. Apakah kalau kamu menang apakah cukup siap di lapangan?
DORA: Ya. Baik, Mbak Ulfa itu merintis karir dari awal?
ULFA: Sepuluh tahun lebih.
DORA: Sepuluh tahun lebih?
ULFA: Mbak berapa minggu?
DORA:
Terima kasih Mbak Ulfa, jika nanti saya jadi bintang nantinya. Mbak
Ulfa meniti karir lama sekali. Apakah Mbak Ulfa merasa ada
ketidakadilan antara yang lama meniti karir dengan saat ini?
ULFA: Bukan ketidakadilan. Nasib beruntung. Itu dia.
Dora
tampaknya memang beruntung. Malam itu juri memenangkan Dora. Namun dari
perhitungan kami, para peserta rata-rata menggunakan 22 kata per
pertanyaan, atau lima kata lebih banyak dari batas David Candow. Model
bertanya mereka panjang-panjang dan tertutup. Ulfa Dwiyanti sendiri
mempertanyakan kualitas Dora. Hanya keberuntungan saja. Tanpa kerja
keras. Mereka hanya menang tampang tapi miskin pengalaman.
Tidak
heran kalau banyak nara sumber yang bertanya ulang. Misalnya, Wahyu
Rahmawati dari Malang, dalam segenap kegugupannya, bertanya pada Eep
Saefullah Fatah, "Langsung saja. Sekarang perpolitikan setelah
pemilihan presiden kedua telah dibuktikan bahwa SBY menang. Pada saat
ini banyak sekali nama-nama yang dicantumkan, baik itu di SCTV sendiri
maupun di surat kabar, tentang calon-calon kabinet. Menurut Anda,
bagaimanakah persentase pemberian nama pemunculan nama itu terhadap
kabinet nanti?"
Eep tampaknya tak mengerti pertanyaan versi 44-kata Wahyu. Eep bertanya, "Maksudnya?"
WAHYU: Maksudnya, seberapa kredibelkah orang-orang yang dicantumkan di televisi dalam kabinet nanti?
EEP:
Sebetulnya belum ada satu pun konfirmasi dari SBY-Kalla tentang
nama-nama yang beredar. Jadi saya kira, kita tidak bisa menilai
seberapa kredibel mereka sebelum ada konfirmasi (Perhatikan Eep membantah asumsi Wahyu).
WAHYU: Tapi mengapa nama-nama itu harus dimunculkan. Apakah ini testing the weather dari SBY atau Anda optimis terhadap testing the weather dari SBY?
EEP:
Sebetulnya ada kebutuhan memang untuk memunculkan nama sebelum
pelantikan 20 Oktober dikarenakan masyarakat perlu tahu siapa yang akan
menjadi pejabat publik. Tapi persoalannya, nama-nama yang muncul
sekarang ini adalah nama-nama yang sebetulnya beredar begitu saja,
tanpa ada konfirmasi. Itu yang jadi persoalan.
WAHYU: Kok bisa tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu, kenapa harus memunculkan?
EEP: Siapa yang memunculkan?
WAHYU: Kata Pak Eep tadi bahwa tidak ada konfirmasi terhadap pemunculan nama-nama tersebut.
EEP: Sampai sekarang SBY dan Kalla belum mengkonfirmasikan satu pun nama.
WAHYU: Dan siapakah yang memunculkan adanya nama-nama di televisi tersebut?
EEP: Media massa.
WAHYU: Media massa? Jadi tidak ada konfirmasi lebih lanjut dari SBY maupun Kalla.
EEP: Belum ada sampai sekarang. Termasuk ketika kemarin SBY mengadakan ujian
doktor. Ada sejumlah nama yang ikut serta hadir dan SBY mengatakan
bahwa mereka bukanlah calon-calon menteri.
WAHYU: Menurut Anda sendiri Pak Eep, bagaimana kredibel yang dicantumkan?
Maksud saya, nama-nama yang dicantumkan ini, menurut Pak Eep, bagaimana
posisinya dalam kabinet nanti? Apakah mereka cukup mampu dalam memimpin
negara kita esoknya?
EEP: Belum ada nama
masalahnya. Jadi kalau misalnya Anda menanyakan kredibilitas mereka,
siapa mereka kita tidak tahu. Jadi ada ketidakjelasan di sini. Siapa
yang Anda maksudkan?
Tanya jawab ini menghabiskan waktu 2.5
menit karena Wahyu memakai asumsi yang salah. Tapi ini bukan monopoli
Wahyu. Wahyu dan kawan-kawannya semua menunjukkan kesan sok pintar,
agresif, serta tak mampu mewakili audiens dalam wawancara. Grace
Natalie Louisa dan Linda Puteri Mada bertanya enam pertanyaan dan hanya
satu yang terbuka. Mohammad Achir bahkan bertanya 62 kata. Kesan belum
tentu sama dengan esensi. Bisa saja Dora, Wahyu dan sebagainya
sebenarnya rendah hati.
Karni Ilyas, direktur pemberitaan SCTV,
tak setuju dengan argumentasi kami. Karni mengatakan bahwa kelima orang
ini memang bukan wartawan. Mereka hanya calon wartawan. "Ketika mereka
jadi juara, mereka baru jadi calon wartawan. Masa percobaan lagi.
Begini saja, yang namanya Bayu Setiyono, pantas jadi wartawan atau
nggak? Bayu itu juara kami 1997. Sekarang jadi pantas setelah enam
tahun. Ketika jadi juara, boleh saja Anda bicara belum pantas."
Atmakusumah
Astraatmadja, mantan ketua Dewan Pers dan pemenang Hadiah Magsaysay,
mengatakan pada kami bahwa ia tak setuju seleksi wartawan dilakukan
secara komersial (Dora mendapat hadiah Daihatsu Xenia) dan memanfaatkan
frekuensi publik untuk keperluan internal SCTV. Beberapa wartawan lain
juga tak setuju karena kuatir citra wartawan diasosiasikan dengan
kinerja Dora dan kawan-kawan.
Kami juga belum melakukan analisis
kemampuan Bayu Setiyono. Tapi kami ingat Bayu pernah diperlakukan sama
macam gaya Ulfa ketika Bayu mewawancarai Kwik Kian Gie dari PDI
Perjuangan. Kwik menyebut Bayu "jongkok." Tapi menarik juga kalau mulai
sekarang Anda memakai prinsip David Candow untuk menghitung jumlah kata
pertanyaan-pertanyaan Bayu. Atau seberapa tertutup atau terbuka
pertanyaannya? Dan tentu saja, bukan hanya Bayu, tapi kalau perlu semua
wartawan televisi Jakarta. Jangan-jangan Anda akan menemukan kesimpulan
bahwa kualitas mereka tak jauh lebih baik dari Dora atau Wahyu?
Entries (RSS)