semalem aku nonton Kick Andy yg ditayangin stasiun tv sebelah kantor. ceritanya ttg penderitaan orang2 dg skisofrenia yg digolongin gangguan jiwa. sebutlah namanya mba Evi (nama sebenarnya) yg seorang mantan model dan penikmat dunia gembrot alias dugem. dia married sama suami yg ternyata di kemudian hari mulai kebuka kedoknya sebagai pecandu narkoba. rusaklah rumah tangga mba Evi. "ada keinginan membunuh anak saya karena takut tidak bisa menghidupinya dengan layak," katanya. kakaknya yg bernama Nurul (juga nama sebenarnya) ngaku adiknya pernah lari ke mesjid sambil gendong anaknya teriak2 "sekarang kiamat.. sekarang kiamat….."

singkat kata singkat cerita, mba evi sembuh walau masih ngonsumsi obat pencegah halusinasi. salah satu cuplikan videonya nunjukin bang Andy the host ngunjungin RSJ Soeharto Heerdjan di grogol. aku jadi inget waktu juli tahun lalu berada di dalam RSJ itu juga. eittttt…. jangan salah sangka dulu, bukan dirawat di sana, tapi liputan atau tepatnya ospek latihan liputan. sama redaktur yg inisialnya Pak Y, aku disuruh ke RSJ tapi kebetulah berdua sama Sopia.

begitu masuk lorong pertama, ketemu salah satu pasien yg lagi jalan2. "halo," sapanya ramah. "halo juga," balasku menyapa sok akrab. Sopia heran kenapa aku nanggepin orang itu. di RSJ itu aku ngobrol2 sama ’saudara-saudara’ kita tapi yg udah masuk taraf hampir sembuh. mereka udah dibiarkan lepas jalan-jalan di lorong atau duduk2 di selasar2 depan kamar. sedangkan pasien yg baru masuk masih dikrangkeng coz masih ‘liar’ jadi cuma bisa liat dari depan. di sel pria, penghuninya berusaha berinteraksi dg ku. "bang minta rokok, bang minta rokok," pinta mereka mengiba. tapi sayang aku ga bawa rokok, lagian sama petugas ga boleh ngasih rokok. di dalam sel itu ada puluhan kamar. suara lolongan, teriakan, desahan (loh…) terdengar dari dalam.

perjalanan berlanjut ke sel perempuan. keadaan ga jauh berbeda. di depan sel perempuan, ada seorang pasien perempuan yang aku lupa namanya, sebutlah namanya Bunga (nama samaran klasik). dia udah sembuh lagi bercengkerama sama para suster2 yg masih tampak muda-muda belia. waktu aku wawancarai, Bunga yg bergaya tomboi ini ngaku masuk ke situ karena stres ortunya cerai. dia mengaku bosan dengan perlakuan suster2 di situ yg suka nggodain doi. satu pertanyaan suster yg memuakkan bagi Bunga adalah "gimana, ada halusinasi ga?" pembicaraanku dg dia yang lumayan lama itu berakhir waktu dia harus bantu suster untuk bagiin obat ke pasien lain yg masih dikrangkeng. memang, mereka yg sudah hampir sembuh diberdayakan membantu pekerjaan di sana. malah ada salah satu mantan pasien yg sebenernya udah boleh pulang tapi lebih milih tetep di situ, akhirnya dijadiin pegawai kebersihan.

pasien terakhir yg kutemui ternyata lumayan akrab sama kantorku kerja, Media Grup. "Punya Pak Surya Paloh ya?" tanyanya. "Kok ga bawa kamera?"

aku pikir tanpa ada motivasi sosial, tugas liputan itu pasti akan sangat menjengkelkan nan melelahkan. tapi syukurlah semua itu ga terasa karena pas kuliah udah sempet mau nglamar volunteer di RSJ di Bogor. wah…. dari apa yg aku lihat itu, rasa syukur makin tebal di hati terlepas dari segala kekuranganku ternyata masih ada, bahkan banyak, orang yg lebih menderita dan berkekurangan. jadi jangan pernah anggap diri sebagai manusia yg paling menderita, tersial, atau tercela di muka bumi.

you’re not alone…..

Leave a Reply