ga
jarang aku lihat orang-orang begitu gemar menertawakan dan
mengeksploitasi kekurangan orang lain. kenapa mereka ga cukup nyimpen
tawa mereka dalam hati aja dan mensyukuri kekurangan itu ga ada pd diri
mereka. aku tanya ini berdasarkan standard yg aku pake: sebisa mungkin
ga memverbalkan apa yang aku lihat pd seseorang yang sekiranya bisa
bikin orang itu tersinggung. maksudku di sini bukannya aku anti kritik,
tapi menghindari suatu bentuk verbalisasi citra ‘ganjil’ yang
tertangkap mataku dari fisik orang lain. intinya adalah menghindari
omongan yang ga guna.

secara logika, dengan menertawakan
kekurangan orang lain maka mereka beranggapan diri mereka sempurna. aku
ambil kesimpulan mereka menertawakan dan mengeluarkan kata-kata
penggambaran kekurangan fisik orang lain untuk semakin mengukuhkan diri
sebagai manusia sempurna. padahal tanpa mereka ucapkan, semua orang
juga tau bahwa seseorang itu memang punya kekurangan fisik. ada juga
sebagian orang yang, walau lihat ada kekurangan, mereka ngenggep hal
yang wajar dimana masing-masing punya kekurangan dan kelebihan sehingga
mereka ga ambil pusing. jadi kembali lagi ke apa manfaat mereka
memverbalisasi tangkapan otak mereka. kalo alasannya bisa mendapat
kesenangan, kebahagiaan, dan kepuasan dengan memanfaatkan kekurangan
orang lain, aku rasa mereka sakit (jiwa). kasian mereka….

3 Responses to “Verbalisasi Fisik”
  1. Betul banget dy…hanya orang2 sakit jiwa dan sebenarnya ga percaya sama diri sendiri yang menjelek2an orang lain demi kesenangan dan kepuasan.
    Orang lain mungkin punya kekurangan fisik, tapi yang menganggap fisiknya sempurna dan berani menghina orang lain, dia punya jiwa yang cacat..dan itu lebih menyedihkan!

  2. sekadar perspektif berbeda, bos….kadang2, mentertawakan orang lain dianggap sebagai cermin mentertawakan kelemahan diri sendiri. Dan..mentertawakan kekurangan diri sendiri (ingat..kadang kita dengan lantang bilang pada orang lain bahwa kita bodoh atau pelupa, seraya tertawa) adalah bagian penting yang menunjukkan bahwa kita masih sadar, bahwa kita adalah manusia biasa.

    salam

    nb. pa kabar?

  3. Baca ini jadi inget suatu pengalaman berharga yang pernah gw alamin, suatu waktu pas gw lagi ngobrol sama temen gw gw pernah terucap kata-kata “kasihan mereka yang tidak seberuntung kita yang memiliki tubuh yang lengkap”.. tiba-tiba temen gw itu “menegur” … read more di
    http://anti.blogs.friendster.com/my_blog/2006/07/re_verbalisasi_.html

Leave a Reply