Archive for October, 2006

Aneka rupa kalimat sms untuk mengungkapkan permintaan maaf dan ucapan selamat lebaran. Uniknya, beberapa di antara pengirim tetap menyisipinya dengan pesan sponsor Images_2sesuai dengan kepentingan, profesi, atau sesuatu yang diperjuangkannya. No matter what the occasion is. Ini dia yang mampir ke HP-ku lebaran tahun ini:

"… semoga ibadah kita senantiasa mendapatkan berkah dan ridho Allah SWT, seraya berupaya dan berdoa agar negeri ini segera bersih dari praktik2 korupsi. Aamiin yRa. Takzim, Erry RH & kel." (Erry Riyana Hardjapamekas, Wakil Ketua KPK)

"UNICEF dan Komnas FBPI mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1427H. Mohon maaf lahir dan bathin. Menyebarkan sms ini Anda turut mengurangi resiko flu burung bagi keluarga dan rekan Anda: Tanggap Flu Burung: jangan sentuh unggas yg sakit atau mati, cuci tangan dg sabun, pisahkan unggas dari manusia, laporkan unggas yg sakit atau mati mendadak, periksa segera jika flu dan demam setelah berdekatan dg unggas." (Tb Arie R, Konsultan Media UNICEF)

"Chalid M & Kel WALHI ucapkan Selamat Idul Fitri 1427H, mhn maaf lahir&bathin. Smoga esok Indonesia dpt membaik, rakyat sejahtera & perusak alam dihukum berat." (Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)

"Bila lidah salah mengucap, bila mata salah melihat, bila hati salah menduga, bila pena salah menulis kata, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. (iman yuniarto)." (Iman Y, Reporter Republika)

"Episode kita sprti kanvas yg kotor oleh noda2 ksalahanku… Mhn maaf lahir & batin. Biar kulukis guratan wrn nan indah diatasnya. Taqabalallahu minna wa minkum. -BAIM" (Ibrahim Umar, Pelajar IT Indonesia di Malaysia yang ga kesampaian jadi pelukis)

"Anak kodok makan ketupat, makan ketupat sambil melompat. Kirim kartu lebaran sudah tak sempat, pake sms pun so what?! Met lebaran. Maaf lahir batin.." (Irma Kurniati, Reporter Media Indonesia yang pernah dicium pangeran kodok)

"Aku adlh tman yg… 1% sbr, 2% baik, 3% pngrtian, 4% jjr, 90% bnyk k’slhn… Sorry 4 the mistakes i ever had, hope u’ll 49ive me. Met lbran.. Maafin ya.." (Elenda Dilla P, nah bingung nih… guru Matematika apa guru Bahasa Inggris ya???)

"Ngaturaken sugeng riyadi 1 syawal 1427 H. Nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan kulo. Mugi kito sedoyo tansah pinaringan rahmatipun gusti. -basuki-" (Basuki Purnama, Reporter Media Indonesia yang mantan pemain ketoprak)

"Ass. Yuk rame2 kita RESTART diri kita, REFRESH jiwa kita, RECHARGE pikiran kita, REFILL dgn iman & taqwa, RECYCLE semua kesalahan & RECHANGE dgn kemuliaan. Nowo" (Pranowo Gunito, suka again and again ya mas…)

"Jln2 ke Kp Rambutan. Tdk lupa mampir ke rmh edo. Mumpung skrg lg lebaran. Mampir ke rmh edo dong. :D Ikan patin dimakan buaya. Maaf lahir-batin ya. #edoaprianto" (Edo Aprianto, Marketing Support Media Indonesia. Agak klasik sih pake pantun tapi lumayan ada muatan promosinya)

"Menyambung tali merajut silaturahmi, beralas ikhlas beratap doa, semasa hidup bersimpuh khilaf, mengharap diri di basuh maaf "MINAL AIDIN WALFAIZIN" IRFAN & KELUARGA" (Irfan, Fotografer Media Indonesia -puitis amat bang)

"Maaf t’lah menuh2in inboxnya… Saya hny ingin ucapkan, TAQOBBALLALLAHU MINNA WA MINKUM.. MINAL AIDIN WAL FAIZIN… Maap ya.. Beneran.. Maap ya.. =)." (Andri Arivian, kakaknya Sahili anaknya Mpo Minah Bajaj Bajuri)

and last but least

"Setelah lebaran ini, semoga hati kita sebening ProXL, iman sekuat sinyal Simpati, pahala sebanyak perdana Mentari, dan kata MAAF semurah pulsa Flexi." (Reva Sasistiya, penjual voucher pulsa dan kartu perdana HP)

Comments No Comments »

Tiada yang istimewa dengan pemandangan di terminal Blok M, Jumat (13/10), pukul 20.00. Lalu lalang manusia yang menggantungkan diri pada onggokan bis-bis usang nan lusuh untuk mengantar ke peraduan masing-masing di rumah setelah bekerja. kebetulan aku juga salah satunya. aku berdiri beberapa meter dari gerbang utama Pasaraya Grande sedang menunggu taksi biru berembel-embel tarif lama. meski konsentrasi mengamati taksi-taksi yang masih berada di kejauhan, tak sulit mata ini menangkap sesosok perempuan renta duduk di belakang tiga bakul berisi tumpukan apel, jeruk, dan pir. ya, dia jualan buah-buahan itu di pinggir jalan yang penuh kepulan asap. kepalanya botak. beberapa helai rambut yang tumbuh di atas kuping kanan dan kiri ia pilin dan pertemukan di atas kepalanya dengan membuat ikatan kecil. kondisinya sangat mengibakan sampai sempat terpikir untuk membeli dagangannya hanya karena kasihan. namun, pikir pendek mengurungkan niat itu karena pertimbangan baru buka puasa dengan makanan yang lumayan lengkap di liputan acara di hotel bintang lima. alasan kedua, tas sudah terlalu berat untuk dibebani lebih lagi. akhirnya niat itu sama sekali hilang, hanya sesekali mata melirik ke arahnya tetap memendam kasihan.

konsentrasi kembali bubar manakala dari arah terminal berjalan tiga bule. semuanya laki-laki yang bisa disebut oom-oom. mereka tidak berjalan beriringan walau kenal satu sama lain. bule yang berjalan paling belakang dari jauh sudah tampak menyiapkan beberapa lembar uang seribuan. saat melintas di depan wanita tua itu, si bule memberikan uang kertas itu kepadanya tanpa sepengetahuan kedua temannya. yang diberi pun tersenyum tanda syukur. berlalu lah trio bule itu melewatiku dan akhirnya menjauh. belum selesai. rupanya si bule belum puas dengan amalnya. "jalan duluan aja," teriaknya pada dua teman yang berjalan di depannya. si bule balik kanan, kembali ke arahku, atau lebih tepatnya ke arah nenek tadi. kali ini selembar uang kertas warna merah bergambar soekarno-hatta menghampiri tangan keriput si nenek botak. betul, itu uang seratus ribu rupiah. tanpa ba..bi..bu.. bule berjalan cepat menyusul rekan-rekannya. si botak rupanya belum ngeh atas apa yang ada di tangannya. baru sesaat kemudian ia bersuara lirih, "satus (seratus)…," sambil menatap rejeki nomplok yang baru diterimanya. terbayang olehku rasa syukur nenek itu bak ketiban durian runtuh dari langit. buru-buru dia menyimpannya dalam dompet mungil, lalu menyelipkannya di antara lapisan stagennya (kain panjang pengikat pinggang) –tipikal nenek-nenek.

seolah tersentil hati ini mengingat aku yang telah tega membatalkan niatku membeli dagangannya. untuk membeli, dimana aku mendapat sesuatu darinya, saja aku ragu, sedangkan bule itu memberikannya cuma-cuma. ya Allah… kenapa aku yang sebangsa dengan nenek itu sedemikian tega. si bule meyakinkanku bahwa wanita tua itu memang layak dibantu, tetapi kenapa justru acuh dan egoisme yang mendominasi diriku saat itu. apalagi di bulan penuh berkah, ramadan, ini.

Comments 2 Comments »