Tiada yang istimewa dengan pemandangan di terminal Blok M, Jumat (13/10), pukul 20.00. Lalu lalang manusia yang menggantungkan diri pada onggokan bis-bis usang nan lusuh untuk mengantar ke peraduan masing-masing di rumah setelah bekerja. kebetulan aku juga salah satunya. aku berdiri beberapa meter dari gerbang utama Pasaraya Grande sedang menunggu taksi biru berembel-embel tarif lama. meski konsentrasi mengamati taksi-taksi yang masih berada di kejauhan, tak sulit mata ini menangkap sesosok perempuan renta duduk di belakang tiga bakul berisi tumpukan apel, jeruk, dan pir. ya, dia jualan buah-buahan itu di pinggir jalan yang penuh kepulan asap. kepalanya botak. beberapa helai rambut yang tumbuh di atas kuping kanan dan kiri ia pilin dan pertemukan di atas kepalanya dengan membuat ikatan kecil. kondisinya sangat mengibakan sampai sempat terpikir untuk membeli dagangannya hanya karena kasihan. namun, pikir pendek mengurungkan niat itu karena pertimbangan baru buka puasa dengan makanan yang lumayan lengkap di liputan acara di hotel bintang lima. alasan kedua, tas sudah terlalu berat untuk dibebani lebih lagi. akhirnya niat itu sama sekali hilang, hanya sesekali mata melirik ke arahnya tetap memendam kasihan.
konsentrasi kembali bubar manakala dari arah terminal berjalan tiga bule. semuanya laki-laki yang bisa disebut oom-oom. mereka tidak berjalan beriringan walau kenal satu sama lain. bule yang berjalan paling belakang dari jauh sudah tampak menyiapkan beberapa lembar uang seribuan. saat melintas di depan wanita tua itu, si bule memberikan uang kertas itu kepadanya tanpa sepengetahuan kedua temannya. yang diberi pun tersenyum tanda syukur. berlalu lah trio bule itu melewatiku dan akhirnya menjauh. belum selesai. rupanya si bule belum puas dengan amalnya. "jalan duluan aja," teriaknya pada dua teman yang berjalan di depannya. si bule balik kanan, kembali ke arahku, atau lebih tepatnya ke arah nenek tadi. kali ini selembar uang kertas warna merah bergambar soekarno-hatta menghampiri tangan keriput si nenek botak. betul, itu uang seratus ribu rupiah. tanpa ba..bi..bu.. bule berjalan cepat menyusul rekan-rekannya. si botak rupanya belum ngeh atas apa yang ada di tangannya. baru sesaat kemudian ia bersuara lirih, "satus (seratus)…," sambil menatap rejeki nomplok yang baru diterimanya. terbayang olehku rasa syukur nenek itu bak ketiban durian runtuh dari langit. buru-buru dia menyimpannya dalam dompet mungil, lalu menyelipkannya di antara lapisan stagennya (kain panjang pengikat pinggang) –tipikal nenek-nenek.
seolah tersentil hati ini mengingat aku yang telah tega membatalkan niatku membeli dagangannya. untuk membeli, dimana aku mendapat sesuatu darinya, saja aku ragu, sedangkan bule itu memberikannya cuma-cuma. ya Allah… kenapa aku yang sebangsa dengan nenek itu sedemikian tega. si bule meyakinkanku bahwa wanita tua itu memang layak dibantu, tetapi kenapa justru acuh dan egoisme yang mendominasi diriku saat itu. apalagi di bulan penuh berkah, ramadan, ini.
Entries (RSS)
Ady…
seriously, honestly,
ternyata di balik sifatmu yang urakan dan -seringnya- menjijikkan itu,
tersimpan kelembutan hati dan kesadaran beribadah
u just touched my heart.
ps. MY HEART lho Di. MY HEART.
Wendy ~~
bukan MY CHEST!!!!!!!!!!!!!!!
oh, ady. kamu menyentilku juga.
ternyata ady -yang secara mengenaskan suka ngaku2 sebagai superman- juga (cuma) manusia…