Malam minggu kelabu. Sabtu (22/9), anjing gw yg namanya Kent mati.
Padahal pagi jam 07.30 sebelum gw brangkat kerja masih baek2 aja. Gw kasih
makan, ajak jalan2 di sekitar kompleks kos, maen kejar2an bola, gw
mandiin, dan gw kasih perawatan kesehatan harian. Gw sampe kos jam 21.30.
Sebenernya gw udah mau liat Kent tapi ketunda gara2 gw lagi kecapean
banget dan ada beberapa sms yg mesti dijawab. Jadi gw rebahan sambil bales
sms2 dan buka amplop2 tagihan ini itu sampe kelupaan nengok si Kent.
Abis mandi n sholat jam 22.15 masih lanjutin bales2 sms. Baru inget
Kent jam 22.40. Betapa kagetnya gw liat Kent udah ga bernyawa. Tubuhnya
terkolek lemah. Mukanya yg lucu tampak tersenyum. Ga ketauan jam berapa
tepatnya Kent mengembuskan napas terakhirnya. Gw mikir2 kenapa Kent
mati. Apa kelaparan ya? Emang siy udah sekitar sebulan terakhir dua kali
sehari gw kasih makan, ajak jalan2, maen, dan mandi. Tapi dua hari
terakhir gw sedikit lebih sibuk jadi cuma sempet kasih makan sekali sehari.
Gw sediiiih banget… Soalnya anjing jenis terrier ini mulai gw
pelihara sejak dia baru lahir waktu gw tugas di Papua. Kent udah jadi temen gw
yg lucu. Kent termasuk anjing yang doyan makan. Kent juga paling suka
diajak jalan2. Umur Kent baru 23.
Sebenernya gw di Papua dua kali beli anjing. Anjing yg pertama namanya
juga Kent. Kent senior ini malah cuma berumur 6. Bedanya lagi, Kent
senior sadly died. Bangkainya terkulai di atas sofa. Pesan yg tertulis
waktu itu bunyinya ‘died of negligence’. Sedangkan Kent junior happily
died dengan pesan ‘happy died of old age’. Walaupun gw dua kali gagal jadi
majikan, gw putusin ga bakal uninstall program MobilePet Dog dari HP
gw. Jadi gw pilih lagi anjing baru yg mau gw pelihara.
Yap… Kent emang anjing virtual yg gw pelihara di HP. Masih inget
mainan Tamagochi yg sempet booming awal 1990-an kan? Kent adalah anjing yg
hidup di dunia semacam mainan Tamagochi itu.
Hehe…
1 Comment »
Dua hari yang lalu aku nonton Discovery Channel yg lagi muter dokumenter masyarakat Wamena, Papua. Dokumenter yg lebih bergaya program wisata itu dibawain dua host bule. Bagian yg paling menarik adalah kegiatan masyarakat pribumi berburu di sungai. Menarik karena apa yg mereka buru pernah aku makan pas lagi berkunjung di Wamena, akhir Agustus lalu. Orang-orang Wamena nyebutnya ‘udang selingkuh’. Kenapa disebut begitu? Sekujur tubuh udang ini, dari ujung kepala sampe ujung ekor, berwujud udang. Tapi si bongkok ini punya dua capit. Jadi, diduga hasil love affair nenek moyang udang dan kakek moyang kepiting yg waktu itu mungkin lagi berfantasi buat nyoba something different.
Balik lagi ke dokumenter, udang-udang liar yg ketangkep tampak kelojotan di daratan. Untuk menyantapnya, masyarakat pribumi ga perlu repot2 masak asam manis atau saus tiram apalagi goreng tepung saus bolognaise. Mereka simply bakar, kupas, makan. Beda dibanding yg aku makan waktu itu. Sekitar 10 ekor udang sepanjang 5-20 cm meringkuk di atas piring dibanjiri saus mentega. Kulitnya memerah karena alergi panas. Yummy!! Dimakan bareng nasi anget plus tumis kangkung.
Seorang polisi yg setia nemenin perjalanan aku dan temen2 di Wamena banyak cerita tentang distrik yg (katanya) berasal dari kata ‘Wam’ yg dalam bahasa setempat berarti babi dan kata ‘Ena’ yg artinya apaaaaa gitu. Secara harafiah penamaan itu bisa jadi masuk akal karena memang distrik yang berada di lembah Pegunungan Jayawijaya itu banyak berseliweran babi. Bahkan, kata polisi itu manusia-manusia pribumi banyak meniru tingkah laku si ekor ikal. Ini baru ga masuk akal.
Wamena bisa dicapai 45 menit dengan perjalanan pesawat dari Jayapura. Peak season di Wamena adalah menjelang 17 Agustus karena rutin digelar Festival Lembah Baliem. Salah satu tempat yg jadi obyek wisata di Wamena adalah Kampung Kurulu. Kurulu dan Wamena pada umumnya berhawa sejuk dengan suhu turun 3-5 derajat celsius pada malam hari. Kampung ini terkenal dengan mumi kepala suku yg selalu jadi obyek foto turis2. Ada gula ada semut. Peluang ini dimanfaatkan penduduk kampung untuk komersialisasi mumi dan diri mereka sendiri. Sebagian mereka yg dlm aktivitas sehari-hari sudah berpakaian ala kebanyakan manusia, rela berbugil ria ketika mendengar deru kendaraan pembawa turis. Tujuannya adalah mencari rupiah dengan menjadi obyek foto. Ga sedikit juga yg berkeliaran di luar kampung, di tempat2 publik semisal bandara dengan tujuan yg sama. Yap, ‘jual diri’!
Kehidupan mereka kadang menimbulkan keprihatinan, tapi lebih sering tanpa sadar dianggap sebagai obyek tontonan dengan nilai ‘eksotis’. Sama eksotisnya dengan keindahan alam Papua secara umum yg menimbulkan dilema antara mau dibiarkan ‘indah’ tapi tertinggal atau diubah menjadi moderen tapi keilangan eksotisme itu sendiri. Keindahan-keindahan itu menjadi salah satu penghipnotis makhluk-makhluk Jakarta yg pernah tugas di sana, termasuk aku dan beberapa teman, untuk selalu pengen balik ke sana.
Di kantor, kemarin aku ketemu seorang teman yg sama2 alumni Papua. Dia ngaku ga keberatan kalo disuruh tugas lagi di Papua. Di sela2 obrolan kami, lewatlah Bunga (nama samaran), seorang reporter perempuan, dan berlangsung bla..bla..bla.. singkat berikut.
Teman: Bunga, dapet salam dari F.
Bunga: Loh, emang ketemu dimana?
Teman: Dia kan ditugasin di Papua.
Bunga: (memasang muka iba tapi tetep keliatan sinis) Ooo… kasian…
Teman & Aku: (saling pandang terdiam 1 detik)
Aku: Kasian? Belum tau dia… kasian…
1 Comment »
Once upon a time… He got an instruction to execute a mission. He had to fly far away east to spread up knowledge, experience, and friendship. Initially, it was so hard for him to do so due to his own horrible imagination about the remote island along with its primitive inhabitants. Human wild life, limited facility, and any other negative presumption filled up his mind. What a baseless imagination!
But, he finally realized that they are not true partially when he came and touched the island. Indeed, he could still find such a human wild life: free sex based on animal instict, high level of crime, and unlogic conservative defense strategy using a-doesn’t-make-sense-primitive-law. But they are not exist in every single individual of the island. Friendly greet, sweet smiles come from white teeth, and hillarious jokes are still friends of him. They were among the hard things to loose when he at last must go back to the west. What about limited facility? Forget it! He swore it’s no longer become a difficulty since he is not too much affected whether a place has full or less facility.
Cape d ngomong bahasa bule…
Ya, dia dapet banyak hal berharga dari the island itu. Pengalaman visual, mental, dan yang paling berharga adalah teman-teman baru. That’s why he would like to appreciate the following:
- Semua teman-teman di Metro Papua TV. Makasih udah jadi rekan kerja, sahabat, bahkan sodara yang membanggakan. Tempat berbagi dan mengukir cerita. Ga mungkin disebut satu persatu guys!
- Teman-teman satu tim dari MetroTV. Makasih udah jadi rekan kerja, sahabat, saudara, sekaligus patner serumah layaknya keluarga. Khususnya buat 2 kru tercantik: Susan dan Amanda, serta teman seranjang: Yuda.
- Rekan-rekan wartawan the island: Emi Antara, Riri Elshinta, Tia Cendrawasih Pos, Angel Papua Pos, Folmer Media Indonesia, Bang Rubai SCTV, Alberth TVRI, Paul TOPTV, Andi Detik.com, Odeh Sinar Harapan, Dion TOPTV, Erna TOPTV, dll. Makasih buat kerjasama, bantuan, dan persahabatannya.
- Innova DS 1774 AI, Innova DS 1556 AC, Avanza DS 1684 AH, dan Vios DS 1325 AD. Makasih udah jadi armada yang tangguh nganter pulang-pergi, liputan, dan jalan-jalan.
- Bintang tamu: Kaka Hugo, Abang Panjaitan, Bu Dokter Esti, Astri Bank Papua, Lusi Telkomsel, Stephanus MP Gym. Makasih udah ikut ngisi 4 bulan kehidupan di the island.
- Narasumber idola: Wakapolda Andi Lolo, Dir Reskrim Polda Paulus Waterpauw, Kapendam Imam Santoso, Sekda Tedjo Suprapto, Danrem Burhanudin Siagian, dan Anggota DPRP (yang cantik) Yanni. Makasih udah bantu kerjaan. Spesial buat Pangdam Zamroni, makasih ya oom udah maen ’semprot’. Moga2 di usia Pangdam yang udah senja lebih ati2 kalo ngomong. Buat intel2 melayu di the island, "2-0 kids!"
- Bapak-bapak sekuriti Bank Papua. Makasih udah jagain kantor kita plus bagi2 es krim dan kue sisa acara Bank Papua.
- Steven the house assistant, Paul the photographer, Michael the badminton partner, Via the producer of Mamamia, Asih the producer of Ngobras, Ephoy the producer of Ngovri, Salon Rudy Hadisuwarno the make up artist, Saga the wardrobe, and so on and so forth.
Juga buat semua yang ga kesebut di atas, makasih buanyaaaak atas jasa masing-masing. Sekaligus mohon maaf atas kesalahan kata dan sikap. Smoga kita dipertemukan lagi suatu waktu nanti.
Now… that he finally returns to his real life, goes back to the west with so many foot prints left behind, not to mention… his heart.
Ya, ‘the island’ dalam dongeng di atas adalah Papua the neverland where the sun actually rises, ‘dia’ dalam dongeng di atas adalah Superman.
Superman Returns.
4 Comments »
Temen-temen Papua-ku, silakan download… Gratis!! (klik gambar sampe muncul ukuran asli, klik kanan- ’save picture as…’)
Ukuran yang lebih gede di komputer sekred di folder My Pictures
4 Comments »
Teman-temanku bilang kulitku makin hitam. Mereka tanya: "Apa rahasianya?" Rahasianya adalah ke pantai seminggu sekali, pergi ke Stadion Mandala setiap Persipura maen, dan liputan di tempat2 terbuka. Gimana bisa? Emang ga kerja? Tentu bisa. Semua jadi mungkin di Papua. Setiap weekend pantai a, b, c, d, dst… minta digilir dikunjungi soale banyak pantai di Jayapura. Dan, ga afdol kalo ke pantai ga nyebur, lebih afdol lagi kalo buka baju. Nonton bola di di Stadion Mandala pas Persipura tanding jadi agenda tak terlewatkan, lagi tugas liputan atau sengaja nonton. Padahal kalo dipikir2, sejak kapan aku suka bola? Anehnya lagi, tanpa disogok, tanpa dikomando pasti dukung Persipura. Emang siapa Persipura? Ada hubungan apa sama si Mutiara Hitam? Penting ka?. Liputan pertandingan bola jadi salah satu contoh liputan di tempat terbuka yang memungkinkan kulitku yang tadinya putih jadi makin coklat gara2 terpapar sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet yang berbahaya itu. Awal2nya aja pake sun block pas ke pantai atau beradegan panas waktu liputan. Makin ke sini makin males oles2 sun block. Jadi item deeee….. (at least kata temen2). Gpp, biar item yg penting ada yang nunggu di Jakarta (emang ada?). Untungnya, rambut ga jadi kriting. Selamat tinggal ‘putih’…
4 Comments »
Hari baik udah ditentuin. Tiket balik ke Jakarta udah dipesen. Ibarat ikan di dalam jala, cuma bisa pasrah. Harus penuhi janji balik ke Jakarta setelah empat bulan absen dari peredaran ibukota. Ada kesenangan apa ya yang bakal menyambut di Jakarta biar ga bikin inget terus Papua? Kalo baca blog temen2 yang udah balik ke Jakarta lebih dulu, efek samping tinggal di Papua masih tersirat dalam tulisan2 walau udah dua bulan ninggalin Papua. Efek samping serupa pasti bakal terjadi pada sebagian besar temen2 Timnas MetroTV yang akan pulang kandang dalam hitungan hari lagi, termasuk aku.
Flash back sedikit ke awal Mei, waktu baru dateng di Papua. Beberapa orang–mulai dari temen kantor Metro Papua TV, satpam Bank Papua, sampe polisi di Reskrim Polda Papua–bilang sekali tinggal di Papua hati pasti nyangkut. Mana percaya? Eh gataunya bener juga. Berat buat ninggalin Papua, apalagi mesti balik ke Jakarta. Sempet kepikir mampir Bali dulu buat bridging sbelum balik Jakarta.
Rasanya belum mau balik ke dunia nyata, masih mau di Papua the Neverland. Kadang buat menghibur diri mulai bikin daftar mau ngapain aja di Jakarta. Habisin voucher pizza kah? Nonton bioskop sepuasnya kah? Atau pulang kampung kah? Kayaknya pulkam jadi pilihan menarik toh dapet libur seminggu buat ngilangin jet lack dan adaptasi peradaban.
Kalo otak udah diatur sedemikian rupa, lalu gimana dengan hati dan mata? Ninggalin Papua dengan segala isinya pasti akan mengorbankan hati dan pasti terjadi pertumpahan air mata. Hanya sekedar menghibur diri ga bakal mampu nutupin kesedihan. Dan air mata akan semakin memperjelas kesedihan itu.
Balik lagi ke awal tulisan ini. Cuma bisa pasrah. Timnas MetroTV akhirnya harus kembali ke alamnya seperti Jalangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar.
3 Comments »
Setelah mengudara tiga bulan dengan 2,5 jam tayang, Metro Papua TV (MPTV) mulai menambah jam tayang. Sejumlah produser telah mengajukan empat program acara baru masing-masing berdurasi 30 menit sehingga akan menambah 2 jam tayang menjadi 4,5 jam. Empat program berita seputar Papua tercatat cukup mendulang sukses di kancah pertelevisian Papua (cieh suit..suit..), yaitu Selamat Pagi Papua (SPP), Papua Hari Ini (PHI), Buka Suara (BS), dan Kita Pilih (KP).
Empat program baru yang ditawarkan sedikit menyimpang dari berita-beritaan. Lebih rileks. Mau tau???
Setelah menyaksikan beragam informasi pagi dalam SPP pukul 06.00 WIT dan replay BS pukul 06.30 WIT, pemirsa MPTV akan ditemani menikmati sarapan pagi dalam acara SARABA alias Sarapan Bareng Ady pukul 07.00 WIT. Pemirsa akan diberi berbagai alternatif menu sarapan. Misalnya di warung pecel depan kantor atau nasi kuning yang biasa mangkal di ruang tunggu driver. Beres acara ini, siaran MPTV istirahat untuk gabung dengan siaran nasional Metro TV.
Siangnya, program MAMAMIA alias Mamam Sama Via akan menjumpai para pemirsa setia MPTV pukul 12.30 WIT. Memang acaranya makan lagi-makan lagi. Tapi, mba via sebagai pakar kuliner kenamaan akan mengajak pemirsa berwisata kuliner. Antara lain di warung rawon sebelah Lantamal, Hamadi.
Acara disambung dengan NGOVRI alias Ngopi Dengan Evri pukul 13.00 WIT. Evri yang akrab disapa Epoy akan mengajak pemirsa ke lantai 7 Bank Papua atau ke toilet untuk sekedar ngupi-ngupi dan isep-isep. Isep rokok maksutnya. PR buat Epoy bikin acara baru nenggak Heineken di Dok 2 ya… Selesai acara ini MPTV break lagi.
Baru sorenya, pukul 17.30 WIT akan hadir infotainment NGOBRAS alias Ngobrol Bareng Asih. Di acara ini bakal dibeber, disingkap, dikuak, dibededeh, dijembreng berita-berita selebritas Papua. Mba Asih akan mengupas tuntas…tas… segala gosip yang beredar baik yang kasak-kusuk maupun yang blak-blakan di depan mata.
Pukul 18.00 WIT tetep PHI, dilanjut BS, dan KP sampeeeee pukul 19.30 WIT. Beres de…..
Lumayan kan ada tambahan acara-acara yang tentuna pastina akan menghibur pemirsa MPTV sekeluarga. Buat produser-produser laen di MPTV ditunggu ya kreativitasnya bikin acara masing-masing.
7 Comments »
Jakarta yang sombong gimana kabarmu? Kenapa aku jadi males temenan sama kamu setelah aku ketemu temen baru Jayapura yang lebih down to earth. Wajar kalo kamu nganggep aku dapet temen baru, trus lupain temen lama. Abis kamu sombong sih. Ga kerasa empat purnama hampir aku lewati bersama Jayapura. Artinya, bentar lagi paripurna tugasku berteman dengan Jayapura. Tapi… kenapa pertemanan yang baru seumur jagung ini harus diputus oleh waktu? Emang sih… kamu pasti juga masih inget tanggal 30 April malem waktu kita makan malam perpisahan di Mall Puri Indah diiringi live music, aku berderai air mata tanda berat berpisah denganmu. Apalagi aku cuma ketemu kamu sehari. Tanggal 29 April aku baru aja pulang jalan bareng Shanghai 10 hari. Baru gandengan tangan sama kamu sehari menikmati segala kekayaan, keanggunan, kegagahan, dan fasilitasmu, tanggal 1 Mei kita udah mesti pisah lagi. Aku pun berjanji akan kembali ke pelukanmu setelah empat purnama.
Aku takut akan memenuhi janjiku dengan terpaksa. Sama kayak waktu perpisahan itu, sekarang aku berat berpisah dengan Jayapura yang sederhana, jauh dari gemerlap, berbalik hampir 180 derajat dibanding kamu. Sebenernya aku ga sepenuhnya berat kalo mesti balik ke kamu. Aku masih terbolak-balik bagaimana seharusnya mengatur perasaanku, harus senang atau sedih kah? Campur aduk…. Gara-gara larut dalam perasaanku sendiri, aku tak kuasa nunjukin perasaan ini. Pertanyaan "(Kak/mas/bang/kaka) Ady balik ke Jakarta tanggal 1 Sept juga?" dari mulut Jayapura datang hampir tiap hari. Pertanyaan yang dilontarkan penuh makna, tapi aku ga bisa tebak apa jawaban yang Jayapura harap keluar dari mulutku. Aku selalu jawab datar aja. Bukan apa-apa. Aku hanya berusaha saling menjaga perasaan. Kalo nunjukin ekspresi seneng, aku takut akan membuat sedih Jayapura. Sebaliknya, kalo nunjukin ekspresi sedih, aku takut akan membuat Jayapura makin sedih. Atau mungkin cuma aku yang ke-GR-an Jayapura sedih pisah sama aku. Entahlah…
Jakarta… tau ga kenapa aku suka sama Jayapura? Karena lebih cakep? Tidak. Karena lebih tajir? Memang Jayapura lebih tajir dibanding kamu, tapi sayang aku ga kecipratan kekayaannya, jadi bukan itu alesannya. Karena lebih bersih? Sama sekali bukan itu jawabannya, soalnya aku ga pernah mikir kamu bersih. Aku suka Jayapura karena ga angkuh. Aku rasa Jayapura lebih bisa terima aku karena aku juga bisa terima Jayapura.
Aku sering jalan malem bareng dia di sepanjang trotoar bertegur sapa dengan aroma khas melanesia, menyusuri jejak ludah pinang, di antara lapak-lapak pedagang tetek bengek yang jadi saksi kemesraan aku dan Jayapura. Lewat pasar ikan sayur tradisional yang merayap nelangsa di depan Gelael yang bertindih intim dengan KFC, disaksikan Hotel Yasmin. Kadang kami naik taksi (baca: angkot) bareng. Lagi-lagi kami duduk sebelahan dengan aroma khas melanesia. Atau naek ojek ke mess. Malemnya, aku dan Jayapura tidur seranjang berteman nyamuk-nyamuk (yang katanya) malaria mimpi indah, atau kadang tanpa mimpi karena begitu lelapnya tidur kami berdua. Yaaa.. gitu lah. Hubungan yang penuh kesederhanaan, saling pengertian, dan ga banyak nuntut.
Waktu sela selalu aku pake buat balas dendam masa kanak-kanak di arena ketangkasan anak-anak, mancing, mandi di kali, berjemur di pantai, fitnes, atau maen bulutangkis bareng Jayapura. Kecocokanku menjalin hubungan dengan Jayapura malah udah mulai bikin aku ikut-ikutan logat bicara Jayapura. ‘kah’, ‘toh’, ‘e’, ‘kasih’ mulai tanpa sadar meluncur dari bibirku di setiap akhir ucapan.
Jakarta, ko masih tunggu aku kah?
Jakarta, kita bakal balik kayak dulu lagi kah?
Jakarta, ko mungkin buang kesombongan ko kah?
Kalo ‘iya’ berarti mau ga mau kita harus bersama lagi untuk waktu yang aku ga tau sampe kapan. Artinya juga, aku mesti pisah dengan Jayapura. Padahal, ko tau kah? AKU BENCI PERPISAHAN.
6 Comments »
Steven, asisten rumah tangga di penampungan karyawan MetroTV yang di-Papua-kan. Dia datang ke rumah sekitar seminggu setelah kedatangan rombongan sirkus dari Jakarta. Pas baru awal2 keliatan rajin. Kiranya anget2 tai ayam, rajin di awal2 aja. Tp ternyata rajinnya keterusan sampe sekarang. Tiap hari bikin bersih rumah, cuci piring, bikin teh, suruh beli ini itu, cuci seterika pakaian, kadang juga pijit tuan-tuan tamu dari ibukota.
Berbekal latar pendidikan S1, Steven jadi OB di sebuah kantor udah lebih dari setaun. Seiring kedatangan gerombolan si berat dari Kedoya awal Mei, Steven terus diperbantukan ke rumah penampungan dengan tugas yang ga jauh beda dari kerjaannya di kantor. Ironis memang. Nasib yang bicara. Pernah dia coba nglamar di Metro Papua TV tp belum beruntung. Ternyata, hanya berbekal status putra daerah aja ga cukup. Skor psikotesnya ga nyampe.
Steven yang hobi ngisi TTS kalo ngomong agak bisik-bisik jadi keliatan sok rahasia-rahasiaan. Seperti putra daerah-putra daerah Papua lain, Steven juga suka ngunyah pinang+sirih+kapur lengkap dengan semburan ludah merahnya. Kepala suku di rumah penampungan yang jijik–hampir semua penghuni juga jijik sebenernya–di awal udah kasih peringatan ga boleh makan pinang di rumah. Jadinya Steven kucing-kucingan kalo makan pinang. Selain demen nonton bola, Steven juga doyan nonton Mama Mia.
Steven yang masih lajang udah ternoda oleh perbuatan tuan-tuan tamu iseng. Dua kali dia diintip pas lagi mandi.
1 Comment »
ga kerasa udah dua bulan loh di papua. tambah banyak penampakan2 baru yang ketangkep mata. mulai kebiasaan org papua makan pinang campur sirih trus ngludahin air merahnya plus ampas pinang sembarangan, prusss… disgusting!! ga ada sejengkal tanah pun di sini yang ga ada noda merah ludah pinang. mungkin mereka penganut ‘ga ada noda ya ga belajar’ heee. onggokan daging manusia yang msh nempel di rangka lengkap dengan nyawa gampang ditemuin terkapar di jalan, taman, dan ruang2 publik laen yang ditinggal kesadaran entah kemana. yak, mabok. miras, seks, aids, mati: empat kata yang seolah udah jadi siklus hidup (sebagian) org papua.
gubernur aja pernah nyeletuk ‘kalo dapet bantuan uang org papua pakek buat miras, seks, akhirnya kena aids terus mati’. kalo udah gitu LSM (yang ngaku) pembela HAM dapat alesan pemerintah melakukan genosida. dana otsus 10T jadi nguap bersama aroma alkohol dari mulut penenggaknya, keluar bareng sperma pengobral syahwat, akhirnya melayang bersama nyawa pengidap aids.
belum lagi masalah hak ulayat tanah. mana mau investor masuk kalo buat beli tanah mesti urusan sama orang2 dan aturan kolot entah darimana yang ga masuk akal. tanah yang udah dibeli dari tetua adat bisa dikemudian hari digugat anak cucu cicit adat tanpa peduli apa kata hukum positif. hukum positif kalah sama hukum kolot. beli tanah bukan berarti beli pohon2 di atasnya, sumberdaya di dalamnya. artinya tanah yang dibeli ga boleh diapa-apain hrs tetep apa adanya. tebang pohon berarti hrs bayar lagi pembelian pohon, dst super ribet. kalo nentang, pemalangan tanah mesti ditanggung. dikit-dikit palang. 2M pun melayang buat buka palang.
ada yang lebih ga masuk akal. tabrak mati babi atau anjing bisa kena denda sampe jual mobil. gmn enggak, perhitungannya adalah: (harga babi itu sendiri) + (harga per puting susu) + (harga per anak babi). penetapan harga semau yg punya dan mereka ga kenal istilah ‘ribu’, kenalnya ‘puluh juta’ jadi total jendral bisa ratusan juta gara2 nabrak mati satu ekor binatang jorok itu.
tapi di sini ada bagusnya juga loh. berkat kerajinan makan tiga kali sehari (kadang lebih), fakta baru terungkap bahwa lebih gampang cari nasi pecel atau rawon di jayapura ketimbang di jakarta. tapi lebih gampang lagi nemuin warung makan B2 alias daging babi dan RW a.k.a daging asu bin anjing.
banyak kali pengalaman pertama didapet di sini. mulai dari mancing pertama, liputan tinju, sepakbola, gulat, bulutangkis pertama sampe pengalaman2 pertama lainnya (apa hayoooo…). udah berasa reporter olahraga aja. nginjak tanah papua juga merupakan pengalaman pertama. so, what’s next? we’ll see….
No Comments »
|